Part 2. Si switer aqua

Aku masih terpisah dengan buna. Hnya dgn barengan dengannya, tak ada lagi kecanggungan bagiku. aku pun meninggalkan kelompok mba melisa, karna malu. benar benar malu. tak seharusnya aku terlalu jujur waktu itu

acara ultah tempat kerjaku layaknya konser dengan tampilan musik dangdut sebagai hidangan utama. namun mc belum membuka acara dan masih terdengar suara cek sound dari panitia.

akhirnya aku menghampiri gerombolan rekan kerjaku sesama teknisi robot. rupanya mereka sedang menunggu yg lainnya. harusnya aku bergabung bersama mereka. sepertihalnya populasi satwa bergerombol sesuai spesiesnya. namun aku tak gitu. aku lebih senang bebas bisa lompat sana sini.

fery salah satu dari mereka mengajakku makan dan mencari suyi. padahal aku udah makan namun aku tertarik dengan tawaran yg kedua.

suyi, sosok perempuan yg fery taunya adalh yg kusuka. pernah, aku terbuka pada fery. memang benar aku suka suyi. nmun ku hnya penasaran dan ingin lebih dekat saja. ntah kenapa , fery menerjamahkan kalau aku jatuh cita pada suyi. dan dia berusaha membantu jadi mat comblang.

aku nurut aja,

rupanya, fery tahu suyi ada dimana. gak lama dari itu, saat melangkah ke salah satu tenda bazar. aku di dorong dan hampir menabrak suyi. aku pun langsung lari, menghindar karna gak punya nyali untuk menunjukan wajahku yg kusut ini.

andai semalam gk gadang, mungkin tampilan ini akan membuatku lebih percaya diri.

aku ingat, suyi mngenakan switer berwarna aqua. bibirnya merah muda tanpa lipstik. namun itu natural, yg membuatnya sangat cantik. sedangkan aku? ah sudahlah

gerombolan teknisi robot itupun ku tinggalkan, aku hilang dari tatapan mereka. gara-gara si fery ini. akhirnya aku pun menyendiri lagi , gak percaya diri tuk menunjukan wajah pada siapapun.

aku tak tau apa reaksi suyi tadi. kayaknya, kabar tentang aku suka pada dirinya sudah ia dengar. namun, aku gk tau, gimana dia merespon itu. apakah risih? atau mungkin menunggu nyaliku lebih besar dari ini.

sekarang aku hnya bisa ngurung diri di toilet. sekitar lima menit kemudian, ada yg ngetuk pintu. ku nyalakan keran, pura pura sedang bab. aku terus melakukan itu hingga acara dimulai dan tampilan demi tampilan dari tiap departemen aku lewatkan. ntah berapa jam ya, aku sambil ig-an juga sih.

aku berfikir keras, apa yg mesti kulakukan setelah ini. buna gak ngangkat telponku. aku gk berani keluar darisini sebelum tahu yg akan kulakukan. nyesel banget pake baju ini, mencolok , cerah, tapi wajah kusam. rambut berantakan juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *