Part 1. Si biru tosca

  • by

Bertepatan dengan ulangtahun perusahaan tempatku kerja. Tentunya bberapa moment amat kunantikan. meski sebelumnya pulang malam dan tidur selepas subuh. pagi ini aku tetap semangat menghadapi hari yg kan kulalui, tak lupa. sebelum tidur tadi, ku chat buna tuk membangunkanku. sadar sekali aku, nanti pasti kesiangan. dan syukurlah tak terjadi berkat buna.

aku langsung memilih style yang kan ku kenakan. harus sesuai dengan misi. yakni menarik perhatian orang, heheh. kok gitu? iyalah, karena ada visi yg ku tuju. ntar ku kasih tahu

kaos ungu, leher v dan jeans dongker. aku hnya membawa uang dan power bank. terlalu ribet jika bawa tas yg berat dengan isinya. apalagi kalau gak ada isinya, sia sia aja klo gitu.

tiba di lokasi, cukup kecewa. karna terlalu pagi, gak sempat sarapan. mau makanpun gak ada yg sesuai selera. gk ada yg layak masuk tubuhku yg gk enak badan akibat gadang ini. dan yg lain belum datang

buna menelponku , ia sempat kesel krna kutinggal brgkt duluan. kutunggu aja dia biar tak terlalu marah. makanpun kutunda.

setibanya dia, ku ajak makan dan keliling bazar sambil lirik sana sini, kali aja temen2 yg lain udah pada datang.

beberapa temenku ternyata gk datang, tapi beberapa juga ada yg membawa keluarganya. satu-persatu ku sapa mereka, bertingkah bahwa aku sudah sangat dekat dengan mereka. buna juga sama, ketemu temannya.

ada satu yg kukagetkan

mba melisa, sahabat terdekatku yg paling deket saat ini dgnku saat kerja. dia datang dengan keluarganya, tapi bukan dengan suaminya. aku sering dicomblangin sama dia oleh seniorku mas andi yg sama denganku bagian teknisi robot.

usia mba melisa beda 3 tahun dgn ibuku, aku sering menyikapi mas andi dgn timpalan santai, aku lebih cocok jadi anak angkat mba melisa. akupun bilang ke mba melisa, tolong adopsi aku mba.

mba melisa membawa anaknya, usianya beda 3 tahun dariku.

“yg mana mba?” tanyaku pada mba melisa
“ituloh yg baju hijau”

aku gk melihat bju hijau disekitar itu

namun, ada sosok perempuan yg kuduga sebagai anaknya mba melisa. bajunya biru tosca, aku pura2 ngga ngeh aja.

“gk ada mba”
“ituloh dibelakang”
“gk ada ih”

mba melisa pun berdiri dari duduknya dan menunjuk ke perempuan tadi. aku terkejut ternyata dugaan ku benar. spontan aku memujinya

“cantik mba” senyum sumringah ku tunjukan padanya. suaraku cukup keras, beberapa yg duduk dsana pun sontak menolehku. mba melisa lgsung menjawab,

“yaiyalah, mirip ibunya”

untuk menutupi malu, kutimpali mba melisa dgn candaan.

“wah, skrg aku harus hati2 nih. gk mau deket sama mba mel lagi. ntar di jadiin menantu”

smua yg ada disana pun tertawa.

kecuali prempuan itu, krna mungkin aja tak dengar.
kecuali buna, karna gak ada, aku kehilangan langkahnya. kayaknya bareng temannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *